MADIUN, KABARPLUS – Kota Malang boleh punya tempat wisata kampung tematik bernama Kampung Warna-Warni Jodipan yang saat ini menjadi jujugan para pelancong. Di Kota Madiun beda cerita. Di wilayah kampung pesilat ini ada makam warna-warni yang bisa membuat para peziarah kubur nyaman dan berlama-lama di tempat itu tanpa rasa takut.

Penasaran? Kuburan warna-warni itu berada di komplek pemakaman Ki Ageng Budug, Kelurahan Nambangan Lor Kota Madiun. Area seluas 3.150 meter persegi itu kini jauh dari kesan angker atau menyeramkan. Keberadaan makam Ki Ageng Budug, tokoh yang diyakini pelaku babat atau pendiri kelurahan setempat terawat baik. Pun menjadi magnet bagi peziarah sebagai tempat wisata religi. baca juga : Walikota Madiun Janji Perlonggar Pesta Pernikahan

Lurah Nambangan Lor, Slamet mengatakan, anggaran untuk mengecat makam ini murni swadaya masyarakat. Termasuk dana yang digunakan juga berasal dari donasi warga setempat. “Seluruh inovasi itu dilakukan masyarakat setempat,” kata Slamet, Rabu (7/4/2021)

Menurut Slamet, pengecatan dilakukan guna menyambut Ramadhan. Ini karena makam ini juga merupakan salah satu tempat yang ramai dikunjungi peziarah. ”Kalau terlihat cantik, bersih dan menarik, makam itu terkesan jauh dari mistis ataupun angker,” tuturnya.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Madiun Totok Sugiarto mengungkapkan, inovasi dengan mengecat nisan warna warni itu juga dilakukan di 85 total makam yang tersebar di 27 kelurahan di Kota Madiun.

“Bahkan ini kita lombakan setiap tahun, murni inovasi warga dan pengecatan nisan itu juga seizin ahli waris,” ucap Totok.

Dikataknnya, tujuan mengecat makam menjadi warna-warni untuk mengubah imej makam yang seram menjadi nyaman dipandang. Sekaligus menertibkan administrasi terkait nama makam yang bersangkutan.

“Inovasi ini sudah dilakukan sejak dua tahun terakhir,” tuturnya.

Totok menambahkan semakin inovatif dalam menghias makam, mengindikasikan warga setempat guyub-rukun dan gotong-royong. Apalagi menurutnya di masa pandemi ini petugas makam harus standby 24 jam. baca juga : PTM Digelar, Pelajar di Ponorogo Mulai Masuk Sekolah

“Petugas siap siaga memfasilitasi masyarakat ketika ada yang meninggal. Baik meninggal karena kasus covid-19 maupun tidak,” imbuhnya.

Di sisi lain, menghias makam itu diharapkan memiliki multiplier effect. Mulai warga yang jualan bunga, makanan, hingga oleh-oleh. Sehingga diharapkan bisa melengkapi fasilitas bagi peziarah yang melakukan wisata religi di Kota Madiun. (KP006)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *