Rapor yang kali ini diterimakan adalah indikasi keberhasilan seluruh anggota keluarga dalam menghadapi situasi pandemi dengan segala keterbatasan dan pembatasan yang terjadi.

(oleh : Yeni Yuni Astuti, S.Sos. Penyuluh Lapangan KB Kec, Sampung – Dinas PP dan KB Kabupaten Ponorogo)
Yeni Yuni Astuti, S.Sos.

Pertengahan bulan Juni ini anak-anak kita yang duduk di bangku TK, SD, SMP sampai SMA dan sederajat menerima rapor sebagai bentuk laporan evaluasi hasil belajar mereka selama satu semester ini. Rapor tersebut merupakan penilaian atas usaha mereka memahami pelajaran dari para gurunya. Di tengah pandemi covid-19 seperti sekarang, rapor itu tak hanya indikasi pemahaman dan kecerdasan sang anak. Lebih dari itu, rapor yang kali ini diterimakan adalah indikasi keberhasilan seluruh anggota keluarga dalam menghadapi situasi pandemi dengan segala keterbatasan dan pembatasan yang terjadi.

Sejak Maret 2020 lalu, atau hampir tiga semester ini, covid-19 telah benar-benar menjadi bagian dari kehidupan kita. Virus corona telah menginfeksi warga Indonesia dan penularannya terus terjadi secara berantai melalui berbagai acara kedinasan, pertemuan perusahaan-perusahaan, sampai pertemuan para pedagang dan pembelinya di pasar-pasar modern maupun tradisional. Sudah jutaan rakyat Indonesia terpapar dan puluhan ribu di antaranya meninggal.

Namun tulisan ini tidak akan membahas prestasi corona dalam menginfeksi masyarakat Indonesia, juga rekor penambahannya dari hari ke hari. Penulis hanya ingin mengajak masyarakat mengevaluasi diri dan keluarga pada kondisi ‘tidak biasa’ seperti saat ini.

Rapor Kebersamaan

Kondisi Indonesia memang sungguh tidak biasa selama hampir tiga semester terakhir. Anak-anak yang biasa bersekolah dari pagi hingga siang atau sore hari, sejak awal pandemi merambah harus melakoni Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Mereka mengikuti belajar sistem daring (dalam jejaring/online). Para palajar harus berakrab-akrab dengan telepon pintar, laptop atau perangkat digital lain untuk bisa menerima transfer ilmu pengetahuan dari para pengajarnya.

Hal ini karena mereka harus berada di rumah sebagai cara menghindari berkumpul dengan para siswa yang lain agar tidak terjadi kerumunan. Mereka menjalani protokol kesehatan yang disebut phyisical distancing dan social distancing sekaligus.

Para orang tua juga diimbau bahkan ada yang diwajibkan untuk bekerja dari rumah atau work from home alias WFH. Para anak dan orang tua sama-sama harus berada di rumah sebab memang dianjurkan untuk tidak keluar rumah kecuali untuk keperluan yang penting dan mendesak. Tetap berada di rumah adalah protokol penting dalam mencegah penularan covid-19 ini.

Kebersamaan di rumah ini pun disebut banyak pihak mengandung sisi positif. Di antaranya bisa meningkatkan kehangatan dan keakraban hubungan mereka karena memiliki family time yang lebih berkualitas. Mungkin, hal ini didasari oleh asumsi oleh makin panjangnya waktu berkumpul para anggota keluarga dari yang semula hanya sekitar 6 jam (bertemu dalam kondisi tidak tidur) menjadi lebih dari 18 jam setiap hari. Dari pagi hingga malam.

Anak-anak dan orang tua bisa saling membantu dalam beraktifitas. Anak-anak bisa lebih lama membantu orang tua dalam menyelesaikan pekerjaan rumah tangga. Para orang tua juga memiliki waktu lebih lama dalam mendampingi putra-putrinya dalam melaksanakan proses belajar. Bahkan, para orang tua bisa mengambil peran sebagai guru dalam kegiatan tersebut.

Transfer ilmu pengetahuan, keterampilan dan karakter yang selama ini dilaksanakan oleh para guru di sekolah harus dilakukan sebagian perannya oleh orang-orang tua yang berada di rumah karena mereka WFH. Saat jam pelajaran habis dan pembelajaran secara virtual melalui video conference usai, orang tua adalah tempat bertanya ketika anak-anaknya belum terlalu memahami materi yang disampaikan oleh guru.

Bagi orang tua yang tidak memiliki kompetensi di mata pelajaran tertentu, mesin pencari seperti google, yahoo atau bing mungkin akan menjadi pilihan saat tidak menemukan jawaban atas tugas yang diberikan oleh guru. Bimbingan belajar daring berbentuk aplikasi berbayar maupun gratis juga bisa menjadi pilihan solusi mengatasi kondisi ini.

Intinya, orang tua akan lebih lama bertemu dengan anak-anaknya dibanding saat sebelum adanya pandemi. Keluarga akan lebih lama berkumpul dan menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah tangga, tugas sekolah maupun pekerjaan kantor atau perusahaan secara bersama-sama sesuai porsi dan kompetensinya masing-masing.

Maka, bisa dikatakan, rapor atau laporan evaluasi hasil belajar dibagikan pada pertengahan Juni ini bukan hanya penilaian bagi anak-anak. Deretan angka-angka tersebut bisa jadi adalah cerminan dari proses belajar yang dilakukan secara bersama-sama. Baik saat anak-anak menyelesaikan tugas harian, ujian tengah semester ataupun saat mereka harus menghadapi ujian akhir semester sebagai tanda kenaikan kelas.

Ada anak yang nilainya konstan, ada yang turun, dan ada pula yang naik. Bahkan ada pula yang berubah secara tidak wajar, artinya naik tajam melebihi kemampuannya selama ini. Atau turun drastis. Sebab, disadari atau tidak, dengan proses belajar mengajar hingga ujian secara daring dan virtual, orang tua mengambil peran yang cukup besar.

Fungsi Keluarga

Bagi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), keluarga adalah unit terkecil dan utama dalam masyarakat yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan material yang Iayak, bertakwa kepada Tuhan yang Maha Esa, yang memiliki hubungan yang sama, selaras, seimbang antar anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkungan.

Seiring dengan arahan Presiden Joko Widodo atas pandemi covid-19, Kepala BKKBN, dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K) mengajak seluruh keluarga Indonesia untuk menjalankan Aksi 8 (Delapan) Fungsi Keluarga. Yaitu fungsi agama, sosial budaya, cinta dan kasih sayang, perlindungan, reproduksi, pendidikan, ekonomi dan lingkungan.

Kepala BKKBN menyebut, keluarga yang berkualitas akan menjadi benteng yang ampuh dalam mencegah penyebaran virus corona ini. Seberapa ampuh benteng itu? Dari kacamata BKKBN indikatornya jelas. Yaitu meningkatnya kualitas keluarga dengan pelaksanaan delapan fungsi keluarga.

Dalam arahannya, Kepala BKKBN mengajak agar: pertama, sebagai makhluk yang beriman agar tidak panik dalam menghadapi musibah, selanjutnya dengan kesalehannya bisa melaksanakan amalan untuk menjaga kesehatan, kebersihan dan saling membantu. Kedua, sebagai makhluk sosial dan budaya, berinteraksi, dan beradaptasi dengan sesama, peduli dan cinta tanah air dengan bergotong-royong menjalankan arahan dan petunjuk pemerintah.

Ketiga, sebagai wadah bersemainya kehidupan penuh cinta kasih lahir dan batin, keluarga harus berempati, menolong dan ikut bertanggung jawab untuk tidak menjadi perantara virus dan penyakit. Keempat, keluarga sebagai tempat perlindungan bagi seluruh keluarga harus membangun rasa aman dan nyaman serta terlindungi dari paparan virus penyakit. Sikap tanggap terhadap ancaman dengan mengurangi aktivitas di keramaian dan jaga jarak dari orang yang sedang batuk atau flu.

Kelima, keluarga sebagai kesinambungan generasi harus terjaga dari ancaman yang menurunkan kualitas kesehatan. Khusus kepada anak balita, ibu hamil dan lanjut usia agar menjaga kesehatan, meningkatkan imunitas dengan mengurangi aktifitas di luar rumah.

Keenam, setiap keluarga agar membangun percaya diri, melalui interaksi keterdidikan, menyampaikan nilai, norma dan cara berkomunikasi yang sehat dan memastikan tiap anggota keluarga menjalankan etika dalam kehidupan sosial, termasuk etika batuk dengan menutup mulut atau menggunakan masker. Dan menjaga diri dengan selalu bersih, terutama tangan dengan cuci tangan menggunakan sabun.

Ketujuh, tanamkan pola hidup yang hemat. Menjaga dan memelihara kesehatan adalah manusia yang tahu betapa mahalnya biaya berobat dan betapa susahnya kehilangan hari kerja dan hilangnya kebahagiaan. Kedelapan, peduli pada kebersihan dan kelestarian lingkungan serta bersama masyarakat sekitar membangun semangat gotong royong agar terhindar dari paparan penyakit dan virus.

Nah, bersamaan dengan rapotan atau penerimaan rapor alias laporan evaluasi hasil belajar di saat pandemi ini maka kita bisa melakukan evaluasi atas proses berkeluarga yang kita laksanakan selama tiga semester terakhir. Caranya dengan mempertanyakan kepada diri dan keluarga kita atas pelaksanaan kedelapan fungsi keluarga tersebut di atas.

List pertanyaannya antara lain:

  1. Sudahkah kita meningkatkan kesalehan keluarga kita?
  2. Sudahkah kita peduli sesama?
  3. Sudahkah kita makin saling menyayangi?
  4. Sudahkah kita merasa nyaman di dalam keluarga?
  5. Sudahkah kita menjaga kualitas generasi penerus?
  6. Sudahkan kita membangun rasa percaya diri pada keluarga kita?
  7. Sudahkah kita mendidik anak-anak dan keluarga dengan baik?
  8. Sudahkah kita berpola hidup hemat dan sudahkah kita peduli dengan lingkungan kita?

Semua itu tentu dalam konteks melawan penyebaran covid-19.

Tentu kita harus mengamati, membandingkan dan mengingat-ingat kembali kondisi keluarga kita saat kita masih berada dalam situasi normal sebelum adanya pandemi dengan kondisi keluarga kita saat ini. Apakah bila kita melakukan kuantifikasi atau memberi nilai dalam bentuk angka-angka, indikator-indikator fungsi keluarga itu sudah mencapai nilai yang lebih baik?

Harapannya, seluruh keluarga berada dalam nilai rapor yang memuaskan di tengah pandemi ini. Akan tetapi, bila nilanya masih rendah, maka sekarang adalah waktu yang tepat untuk makin dalam saat mengevaluasi diri dan keluarga agar mampu menjalankan fungsi keluarga dengan baik. Sebab, tidak ada harta yang lebih berharga di dunia ini selain keluarga.

Selamat Hari Keluarga Nasional ke-28, 29 Juni 2021. Semoga kita mampu melalui pandemi ini dengan baik dengan pelaksanaan fungsi keluarga sebagai benteng utamanya.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *