Fasilitas endoskopi yang kini dimiliki RSUD Caruban Madiun yang menjadikan layanan terhadap sakit saluran ceran makin dekat dengan warga.
Spread the love
Direktur RSUD Caruban drg.Farid amirudin bersama dr. Pertiwi Rosanti dengan tim medis lainnya memperlihatkan fasilitas Endoskopi yang kini sudah beroperasional di RSUD Caruban.

MADIUN | KABARPLUS – RSUD Caruban Madiun terus berbenah, baik dari sisi fasilitas gedung maupun layanan peralatan kesehatan. Terbaru, RSUD Caruban melengkapi layanannya dengan fasilitas endoskopi. Yakni prosedur medis yang dijalankan dokter untuk memeriksa bagian dalam kerongkongan, lambung, serta usus dua belas jari atau duodenum.

Layanan ini didukung oleh tim medis terlatih, serta penerapan protokol klinis terkini untuk menjamin keselamatan dan kenyamanan pasien. Fasilitas ini menjadikan RSUD Caruban sebagai rumah sakit kedua di Madiun setelah RS.Soedono milik Pemprov Jatim yang memiliki layanan endoskopi gastrointestinal, sebuah langkah maju dalam peningkatan pelayanan kesehatan di wilayah Madiun.

Direktur RSUD Caruban, drg. Farid Amirudin menjelaskan, sebelum ada alat endoskopi ini, untuk pemeriksaan penyakit dalam, dokter RSUD Caruban dalam menangani pasien melakukan USG (ultrasonografi). Yakni prosedur pencitraan medis non-invasif yang menggunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk menampilkan gambar organ dalam, jaringan lunak atau janin secara real-time tanpa radiasi.

Farid berharap, dengan endoskopi, dokter dapat mendeteksi penyakit lebih dini dan memberikan intervensi langsung secara signifikan, meningkatkan ketepatan dan kecepatan diagnosa pasien. Selain itu, pengadaan alat endoskopi ini bukan hanya tentang penambahan fasilitas, melainkan bentuk nyata dan komitmen RSUD Caruban untuk meningkatkan pelayanan kesehatan sehingga masyarakat tidak perlu dirujuk keluar,” pungkasnya.

Disinggung pengadaan alat endoskopi ini, orang nomor satu di RSUD Caruban ini pun menjelaskan, jika pengadaan peralatan endoskopi di RSUD Caruban ini didanai melalui Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) Tahun Anggaran 2023 dengan total anggaran sebesar Rp3,2 miliar. Pengadaan ini merupakan langkah konkret pemanfaatan dana DBHCHT dalam bidang kesehatan, yaitu peningkatan sarana prasarana fasilitas pelayanan kesehatan untuk pelayanan yang lebih cepat dan tepat.

“Kebijakan ini dilakukan guna memperkuat sarana pelayanan medis serta meningkatkan kualitas layanan kesehatan kepada masyarakat,” tuturnya.

Untuk pelatihan alat endoskopi ini berada di RS. dr. Soetomo Jawa Timur. “Kita mengirimkan dokter spesialis penyakit dalam untuk mengikuti pelatihan di RS.dr. Soetomo Surabaya,” jelas Farid.

Menurut pakar penyakit dalam RSUD Caruban, dr. Pertiwi Rosanti,Sp.PD, endoskopi ada dua jenis. Yakni endoskopi saluran cerna bagian atas atau gastroskopi, dan endoskopi saluran cerna bagian bawah atau kolonoskopi. Adapun tujuan endoskopi adalah untuk mengetahui kondisi maupaun kelainan yang ada pada lambung dan usus manusia tanpa harus membedahnya.

“Kami masukkan alat endoskopi melalui mulut atau anus, tergantung keluhan pasien. Pada ujung alat endoskopi dilengkapi kamera kecil. Sehingga, kondisi di dalam lambung dan usus dapat diketahui langsung pada layar monitor,” ujar dr Pertiwi rosanti yang akrab disapa dr. Rosanti, Jumat (27/2/2026).

Dokter Rosanti menjelaskan, keluhan indikasi yang biasa dirasakan oleh pasien untuk dilakukan endoskopi ini adalah adanya sakit pada saluran cerna atas, selanjutnya, BAB hitam yang berulang. “Gerd adalah rasa mual dan muntah yang berulang dan tidak teratasi dengan pengobatan. Lanjut, nyeri uluhati yang berkepanjangan, atau tertekan benda asing,” ujar dr. Rosanti.

Sedangkan untuk pasien yang dirasakan untuk dilakukan kolosnokopi yakni tidak bisa buang air besar (BAB) atau konstipasi yang kronis lebih dari dua pekan atau BAB-nya sudah keras atau kronis. Ada pula BAB bercampur darah yang merupakan itu gejala yang harus diperiksa melalui kolosnokopi,” ujarnya.

Sebelum dilakukan pengecekan menggunakan alat endoskopi ini, pasien diwajibkan berpuasa selama 12 jam, ini untuk memastikan lambung kosong. Tindakan ini tidak membutuhkan waktu terlalu lama seandainya tidak terjadi komplikasi.

“Tindakan ini membutuhkan waktu yang relatif singkat sekitar 10-15 menit untuk saluran cerna atas. Sedangkan untuk saluran cerna bawah (kolonoskopi) sekitar 30-60 menit,” ucapnya. (arb/adv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *